Bulan
Ramadhan hampir separuh bulan telah dijalani, hari kemenanganpun tidak lama
lagi tiba. Seperti biasanya, Indonesia mempunyai tradisi unik saat bulan
ramadhan, yaitu MUDIK. Tradisi mudik mulai ramai ketika mendekati hari-hari
lebaran. Mudik tidak mengenal usia, dari yang tua sampai yang muda. Jumlah mudik
lebaran terbanyak adalah dari Jakarta menuju ke Jawa Tengah. Mungkin karena orang
Jawa banyak yang merantau ke Jakarta, jadi tidak heran lagi kalau lebaran, Kota
Jakarta selalu sepi.
Bagi
para pemudik pengguna transportasi darat yang melewati jalur PANTURA dan tidak
sempat membeli oleh-oleh dari kota rantauannya, kebanyakan membeli oleh-oleh
khas Kabupaten Brebes yatu Telor Asin. Para pemudik bingung ketika melewati jalur
pantura oleh-oleh apa yang akan mereka beli. Telor asin menjadi pilihan bagi
para pemudik karena memang banyak di jumpai di ruko-ruko pinggir jalan pantura.
Selain rasanya enak, harganya juga relatif murah, yaitu dengan harga kisaran Rp.
3.000 kita sudah memboyong satu butir telor asin siap makan.
Namun
banyaknya pemudik yang membeli oleh-oleh mengakibatkan kemacetan yang tidak
bisa di hindari. Rata-rata ruko di Brebes tidak mempunyai tempat untuk parkir
kendaraan bagi para pembeli. Otomatis para pemudik memarkirkan kendaraannya di
bahu-bahu jalan, yang mengurangi kapasitas jalan yang seharusnya lalu lintas
lancar menyebabkan macet. Kejadian ini tidak bisa dihindari lagi, para petugas
pun tidak ingin mengganggu para pemudik yang hendak membeli oleh-oleh. Dari kepolisian
hanya merekayasa lalu lintas untuk mengurangi kemacetan, dengan membuat lajur
baru pada jalur yang berlawanan arah, jadi lajur yang menuju Jawa Tengah ada
tiga dan lajur yang menuju Jakrta hanya satu lajur.
Bagi para perantau yang sebentar lagi akan mudik ke kampung halaman, lebih berhati-hati dalam berkendara, tetap konsentrasi dalam mengemudi, dan jaga emosi. Jangan lupa mengenakan peralatan kelesamatan seperti helm berstandar, jaket, sepatu masker, dan sarung tangan untuk menunjang dalam perjalanan mudik anda.










