Senin, 24 Oktober 2016

Penyuluhan tentang Keselamatan Transportasi Jalan


A.      Dasar Hukum Tentang Penyuluhan Keselamatan Transportasi Jalan
1.        Undang - Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Pasal 203: menyusun Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Jalan “Untuk menjamin Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, ditetapkan rencana umum nasional Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan”
2.        Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2013 tentang Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan.
3.        Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Jalan 2011–2035. Pilar 4: Perilaku Pengguna Jalan yang Berkeselamatan.

B.       Pengertian Penyuluhan Secara Umum
1.        Ban  (1999),  menyatakan  bahwa  penyuluhan  merupakan  sebuah  intervensi sosial yang melibatkan penggunaan komunikasi informasi secara sadar untuk membantu masyarakat membentuk pendapat mereka sendiri dan mengambil keputusan dengan baik.
2.        Mardikanto (1987),  Penyuluhan  sebagai  proses  komunikasi  pembangunan, penyuluhan tidak sekadar upaya untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan, tetapi yang lebih penting dari itu adalah untuk menumbuh kembangkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
3.        Slamet  (1994), istilah penyuluhan pada awal kegiatannya disebut dan dikenal sebagai Agricultural Extension. Dengan pengembangan penggunaannya di bidang-bidang lain, maka sebutannya berubah menjadi Extension Education dan Develoment Communication. Meskipun antara ketiga istilah tersebut terdapat perbedaan, namun pada dasarnya mengacu pada disiplin ilmu yang sama.
4.        Wiriaatmadja  (1973),  Penyuluhan  merupakan  sistem  pendidikan  di  luar sekolah, dimana mereka belajar sambil berbuat untuk menjadi tahu, mau, dan mampu/bisa menyelesaikan sendiri masalah yang dihadapi secara baik, menguntungkan dan memuaskan. Jadi penyuluhan adalah suatu bentuk pendidikan yang cara, bahan, dan sarananya disesuaikan dengan keadaan, kebutuhan, dan kepentingan sararan. Karena sifatnya yang demikian maka penyuluhan biasa juga disebut pendidikan non formal.

C.      Penyuluhan Keselamatan Transportasi Jalan
Penyuluhan keselamatan transportasi jalan merupakan proses untuk mencapai suatu tujuan dalam meningkatkan keselamatan transportasi jalan melalui kegiatan interaksi, bisa juga melalui pendidikan (non formal) dengan tema keselamatan.
Proses aktif yang memerlukan interaksi antara penyuluh dan yang disuluh agar terbangun proses perubahan perilaku yang merupakan perwujudan dari pengetahuan, sikap dan keterampilan seseorang yang dapat diamati oleh orang/pihak lain, baik secara langsung atau tidak langsung.




D.      Proses Penyuluhan
       Ada beberapa proses penyuluhan, antara lain :
1.        Proses komunikasi persuasif oleh penyuluh;
2.        Proses pemberdayaan sasaran penyuluhan; dan
3.        Proses komunikasi timbal balik antara penyuluh dan sasaran penyuluhan.
  
E.       Tahapan Penyuluhan
       Tahap penyuluhan dengan adopsi pada diri sasaran penyuluhan, antara lain :
1.        Tahap penumbuhan perhatian : mengetahui adanya gagasan / ide atau praktek baru untuk pertama kalinya.
2.        Tahap  penumbuhan  minat :  ingin  mengetahui  lebih  banyak  dan  berusaha  mencari informasi lebih lanjut.
3.        Tahap menilai: mampu membuat perbandingan.
4.        Tahap mencoba: mencoba gagasan baru atau praktek baru.
5.        Tahap menerapkan: meyakini & menerapkan sepenuhnya secara berkelanjutan.

F.       Penyusunan Program Penyuluhan
1.        Perumusan keadaan, penggambaran fakta berupa data dan informasi.
2.        Penetapan tujuan, perumusan keadaan yang hendak dicapai :
a.         SMART, yaitu specific (khas);
b.        Measurable (dapat diukur);
c.         Actionary (dapat dikerjakan/dilakukan);
d.        Realistic (realistis); dan
e.         Time frame (memiliki batasan waktu untuk mencapai tujuan).
3.        Penetapan masalah, perumusan faktor-faktor yang dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuan.
4.        Penetapan rencana kegiatan, merumuskan cara mencapai tujuan :
a.         Tingkat kemampuan sasaran penyuluhan;
b.        Ketersediaan teknologi/inovasi, sarana dan prasarana;
c.         Tingkat kemampuan penyuluh;
d.        Situasi lingkungan fisik, sosial dan budaya yang ada; dan
e.         Alokasi pembiayaan.

G.      Materi Penyuluhan
1.        Pesan yang akan disampaikan penyuluh kepada sasaran penyuluhan.
2.        Berupa pesan kognitif, afektif, psikomotorik maupun kreatif.
3.        Bersifat menganjurkan, melarang, memberitahu, maupun menghibur.

Prinsip 7 C
1.        Credibility, pesan dapat diyakini kebenarannya.
2.        Contex, berkaitan dengan masalah keselamatan di wilayahnya.
3.        Content, isinya memiliki arti bagi penerima pesan.
4.        Clarity, jelas susunan bahasa, gambar dan simbol.
5.        Continuity and consistency, berkelanjutan dan konsisten dalam menyampai-kan pesan.
6.        Channels, saluran media komunikasi yang sesuai penerima.
7.        Capability of audience, sesuai dengan kemampuan penerima pesan.

H.      Metode Penyuluhan
1.        Berdasarkan Teknik Komunikasi Yang Digunakan
a.         Metode penyuluhan langsung
Tatap muka antara penyuluh dan sasaran penyuluhan (demonstrasi, kursus, diskusi, dll).
b.        Metode penyuluhan tidak langsung
Dilakukan melalui perantara/media komunikasi (pemasangan poster, penyebaran brosur/leaflet/majalah, siaran radio, siaran televisi, pemutaran film, dll).
2.        Berdasarkan Jumlah Sasaran
a.         Pendekatan perorangan
Langsung antara penyuluh dengan orang per orang.
b.        Pendekatan kelompok
Antara penyuluh dengan sekelompok orang (diskusi, kursus, serasehan, dll).
c.         Pendekatan massal
Dilakukan antara lain dengan cara siaran radio, siaran televisi, pemasangan poster/spanduk, kampanye, dll.
3.        Berdasarkan Indera Penerima Sasaran
a.         Indera penglihatan
Melalui pemasangan poster/spanduk, penyebaran brosur/leaflet/majalah, dll.
b.        Indera pendengaran
Melalui indera pendengaran, antara lain melalui siaran radio, iklan radio, dll.
c.         Kombinasi indera penerima
Melalui demonstrasi cara/hasil, pemutaran film, siaran televisi, dll.
4.        Berdasarkan Metode Pendekatan
a.         Metode dengan pendekatan massal
Menarik perhatian, menumbuhkan minat dan keinginan, serta memberikan informasi selanjutnya.
b.        Metode dengan pendekatan kelompok
Memberikan informasi yang lebih rinci tentang suatu teknologi atau praktek. Metode ini ditujukan untuk dapat membantu seseorang dari tahap menginginkan ke tahap mencoba atau sampai tahap menerapkan.
c.         Metode dengan pendekatan perorangan
Dalam tahap mencoba hingga menerapkan, karena adanya hubungan tatap muka antara penyuluh dan sasaran yang lebih akrab.
5.        Ceramah
a.         Penyampaian  materi  tanpa banyak  partisipasi  dalam  bentuk  pertanyaan atau diskusi.
b.        (kelebihan)  Kelas  mudah  dikuasai,  mudah  dilaksanakan,  dapat  diikuti peserta dalam jumlah besar.
c.         (kekurangan)  Bersifat verbal,  peserta cenderung bosan,  sangat tergantung pada kemampuan penceramah.
6.        Demonstrasi
a.         Memperlihatkan secara nyata tentang cara dan hasil terkait sesuatu hal.
b.        (kelebihan) Pemahaman peserta mengenai materi lebih dalam.
c.         (kekurangan) Memakan waktu lama,  sumber daya yang  dibutuhkan relatif besar.
7.        Kursus/pelatihan
a.         Proses belajar mengajar yang diselenggarakan secara sistematis dan dalam jangka waktu tertentu.
b.        (kelebihan)  Efektif  untuk  mengajarkan  pengetahuan  dan  keterampilan secara mendalam dan sistematis, alumni dapat dipakai sebagai kader bagi kelompoknya.
c.         (kekurangan)  Relatif mahal serta  memerlukan persiapan  dan pelaksanaan yang cermat, kurangnya sarana dan alat bantu pengajaran sering mengganggu tercapainya tujuan, menjangkau relatif sedikit peserta.
8.        Pameran
a.         Usaha  memperlihatkan  atau  mempertunjukkan  model,  contoh,  barang, peta, grafik, gambar, poster, benda hidup dan sebagainya secara sistematis pada suatu tempat tertentu.
b.        (kelebihan) Jangkauan sasaran lebih luas, mempunyai efek publisitas.
c.         (kekurangan)  Memerlukan  banyak  persiapan  dan  biaya,  harus  berganti tema, tema tertentu, memerlukan penjaga yang benar-benar menguasai masalah.
9.        Pemberian Penghargaan
a.         Kegiatan sebagai tanda ucapan terima kasih/penghargaan kepada individu/ instansi atas jasa-jasa/prestasinya khususnya dalam kurun waktu tertentu.
b.        (kelebihan) Merangsang peserta untuk meningkatkan prestasi, mengefek-tifkan kegiatan, memberikan pengaruh yang luas dan melibatkan lembaga/badan lain.
c.         (kekurangan) Membutuhkan biaya tambahan pelaksanaan, hanya melibat-kan beberapa orang peserta.
10.    Pemutaran Film
a.         Metode penyuluhan dengan menggunakan alat film yang bersifat visual dan massal, serta menggambarkan proses sesuatu kegiatan.
b.        (kelebihan) Lebih menarik, sekaligus sebagai hiburan, jangkauannya lebih luas.
c.         (kekurangan) Tidak terdapat komunikasi dua arah, biaya tinggi.
11.    Penempelan Poster
a.         Metode penyuluhan yang menggunakan gambar dan sedikit kata-kata yang dicetak pada sehelai kertas/bahan lain yang berukuran tidak kurang dari 45 cm x 60 cm, dan ditempelkan pada tempat-tempat yang sering dilalui orang atau yang sering digunakan sebagai tempat orang berkumpul.
b.        (kelebihan) Jangkauan sasaran lebih luas.
c.         (kekurangan)  Pesan kurang  lengkap,  bila dibuat  dari kertas akan mudah rusak, sedangkan bila dibuat dari bahan tahan lama biayanya mahal.
12.    Penyebaran Brosur, Leaflet, & Majalah
a.         Menggunakan brosur, folder, leaflet dan majalah yang dibagikan kepada masyarakat pada saat tertentu.
b.        (kelebihan) Materi lebih lengkap dan jelas serta lebih khusus pada materi tertentu, dapat melengkapi metode penyuluhan yang lain, dapat memberikan kesempatan pihak lain untuk berpartisipasi (khusus untuk majalah).
c.         (kekurangan) Bahasa harus menyesuaikan dengan bahasa komunikasi kelompok sasaran, kontinuitasnya tidak dapat terjamin terutama faktor judul, materi, biaya dan keterpaduan dengan metode lainnya.

I.         Media Penyuluhan
Kata media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium, yang berarti perantara atau pengantar. Dalam penyuluhan media berperan sebagai saluran komunikasi dan media belajar.
a.         Media Penyuluhan Tercetak
Bentuk
Foto, poster, leaflet, diagram,grafik, brosur, majalah, buku.
Kelebihan
Relatif tahan lama, dapat dibaca berulang-ulang, dapat digunakan sesuai kecepatan belajar masing-masing orang, mudah dibawa.
Kelemahan
Proses penyampaian informasi sampai pencetakan butuh waktu relatif lama, sukar menampilkan gerak, membutuhkan tingkat literasi yang memadai, cenderung membosankan bila padat dan panjang.

b.        Media Penyuluhan Audio
Bentuk
Kaset CD, DVD, MP3, MP4 audio
Kelebihan
Informasi dikemas sudah tetap, terpatri dan tetap sama jika direproduksi, produksi&reproduksinya tergolong ekonomis dan mudah didistribusikan .
Kelemahan
Bila terlalu lama akan membosankan, perbaikan atau merevisi harus memproduksi master baru

c.         Media Penyuluhan Audiovisual
Bentuk
Film, iklan televisi, presentasi interaktif.
Kelebihan
Dapat memberikan gambaran yang lebih konkrit, baik dari unsur gambar maupun geraknya, lebih atraktif dan komunikatif
Kelemahan
Biaya produksi relatif mahal, produksi memerlukan waktu

d.        Media Penyuluhan Berupa Obyek Fisik/Benda Nyata
Bentuk
Benda sesungguhnya, model, maket, simulasi
Kelebihan
Dapat menunjukkan lingkungan belajar yang amat mirip dengan lingkungan belajar yang sebenarnya, memberikan simulasi terhadap banyak indera, dapat digunakan sebagai liatihan kerja, latihan menggunakan alat bantu dan atau simulasi .
Kelemahan
Relatif mahal

e.         Media Penyuluhan Luar Ruang
Bentuk
Papan reklame, spanduk, pameran, banner dan televisi layar lebar
Kelebihan
lebih mudah dipahami, lebih menarik, sebagai informasi umum dan hiburan, bertatap muka, mengikut sertakan seluruh panca indera, penyajian dapat dikendalikan dan jangkauannya relatif besar
Kelemahan
Biaya lebih tinggi dan proses pembuatannya lebih rumit

J.        Daftar Pustaka
4.        Slide Pert 2. Penyuluhan KTJ, Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan.

Senin, 17 Oktober 2016

Mengenal Kampanye Keselamatan Lalu Lintas


A.      Tujuan
1.        Memahami dasar kampanye keselamatan dengan dasar hukum yang terkait.
2.        Mengerti dan memahami tujuan kampanye keselamatan jalan

B.       Dasar hukum kampanye keselematan
1.        Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang “Lalu Lintas dan Angkutan Jalan”
Pasal 77 ayat (1)
Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib memiliki Surat Izin Mengemudi sesuai dengan jenis Kendaraan Bermotor yang dikemudikan.
Pasal 203
(1)     Pemerintah bertanggung jawab atas terjaminnya Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
(2)   Untuk menjamin Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan rencana umum nasional Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, meliputi:
a. penyusunan program nasional kegiatan Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
b. penyediaan dan pemeliharaan fasilitas dan perlengkapan Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
c.  pengkajian masalah Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; dan
d.  manajemen Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
2.     Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2013 tentang Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan Pilar 4 yaitu “Perilaku Pengguna Jalan yang Berkeselamatan” yang fokus kepada kampanye keselamatan jalan.

C.      Definisi Kampanye
1.   Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, kampanye diartikan sebagai gerakan atau tindakan serentak untuk melawan, mengadakan aksi, mengubah keadaan, mengubah perilaku dan lain-lain.
2.   Leslie B. Snyder (Gudykunst & Mody, 2002) : “A communication campaigns is an organized communication activity, directed at a particular audience, for a particular period of time, to achieve a particular goal” (Kampanye komunikasi adalah tindakan komunikasi yang terorganisasi yang diarahkan pada khalayak tertentu, pada periode waktu tertentu guna mencapai tujuan tertentu).
3.   Menurut WWF (The World Wide Fund for Nature) Indonesia, kampanye adalah alat untuk menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran, untuk meningkatkan kepedulian dan perubahan  perilaku dari target audiens. Kampanye juga dapat dilihat sebagai alat advokasi kebijakan untuk menciptakan tekanan public pada actor-aktor kunci, misalnya peneliti, ilmuwan, media massa dan pembuat kebijakan.
4.    Pfau dan Parrot (1993) : “A campaigns is conscious, sustained and incremental process designed to be implemented over a specified period of time for the purpose of influencing a specified audience” (Kampanye adalah suatu proses yang dirancang secara sadar, bertahap dan berkelanjutan yang dilaksanakan pada rentang waktu tertentu dengan tujuan mempengaruhi khalayak sasaran yang telah diterapkan).
5.    Rajasundarman (1981) : “A campaigns is acoordinated use of different methods of communication aimed at focusing attention on a particular problem and its solution over a period of time” (Kampanye dapat diartikan sebagai pemanfaatan berbagai metode komunikasi yang berbeda secara terkoordinasi dalam periode waktu tertentu yang ditujukan untuk mengarahkan khalayak pada masalah tertentu berikut pemecahannya).
6.   Rogers dan Storey (1987) : kampanye sebagai serangkaian kegiatan komunikasi yang terorganiasi dengan tujuan untuk menciptakan dampak tertentu terhadap sebagian besar khalayak sasaran secara berkelanjutan dalam periode waktu tertentu.

D.      Definisi Kampanye Keselamatan Jalan
Kampanye keselamatan merupakan suatu serangkaian kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu kepada masyarakat umum bertemakan keselamatan jalan dengan tujuan meningkatkan kesadaran bagi masyarakat khususnya pengguna jalan untuk lebih waspada dan peduli akan keselamatan jalan.

E.       Tujuan Kampanye Keselamatan
1.     Meningkatkan kesadaran bagi masyarakat khususnya pengguna jalan untuk lebih waspada dan peduli akan keselamatan jalan;
2.        Menambah wawasan bagi masyarakat tentang etika berkendara yang baik dan benar; dan
3.        Menambah ilmu tentang aturan yang ada di jalan raya.

F.       Karakteristik Kampanye Keselamatan Jalan
1.        Tema keselamatan jalan;
2.        Bersifat persuasif;
3.        Dilakukan oleh organisasi/sekelompok orang dibidang keselamatan jalan;
4.        Sasarannya adalah masyarakat umum khususnya pengguna jalan; dan
5.        Berdampak positif bagi instansi terkait maupun seluruh masyarakat.

G.      Model - Model Kampanye
1.        Model Komponensial Kampanye
 

Sumber memiliki peran yang dominan untuk menciptakan perubahan pada diri khalayak. Pesan-pesan disampaikan di berbagai saluran komunikasi seperti media massa, media tradisional atau saluran personal. Umpan balik untuk mengukur efektifitas kampanye dapat muncul dari pesan itu sendiri, saluran yang digunakan atau respon penerima. Sumber dapat mengidentifikasi potensi gangguan pada semua komponen kampanye yang ada.
  
2.        Model Kampanye Ostegaard oleh Leon ostegaard

Sebuah program kampanye hendaknya selalu identifikasi masalah secara jernih dan langkah ini disebut tahap prakampanye.
a.      Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi masalah faktoral yang dirasakan. Kemudian dicari sebab-akibat dengan fakta-fakta yang ada.
b.     Tahap kedua, pengelolaan kampanye seluruh isi program diarahkan untuk membekali dan mempengaruhi aspek pengetahuan, sikap dan ketrampilan khalayak sasaran. Sikap secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh perubahan dalam tataran pengetahuan dan ketrampilan, seketika maupun bertahap. Seandainya bertentangan dengan sikap yang telah mantap, maka perubahan tidak muncul.
c.      Tahap terakhir dari model adalah tahap evaluasi pada penanggulangan masalah. Tahap ini disebut juga tahap pasca kampanye. Evaluasi diarahkan pada keefektifan kampanye dalam menghilangkan atau mengurangi masalah seperti yang telah diidentifikasikan pada tahap prakampanye.

3.        Model Perkembangan Lima Tahap Fungsional oleh Larson, 1993

Diterapkan pada candicate oriented campaigns, product oriented campaigns atau cause or idea oriented campaigns. Fokus model ini adalah pada tahapan kegiatan kampanye, bukan pada proses pertukaran pesan. Tahap kegiatan meliputi identifikasi, legimatisasi, partisipasi, penetrasi dan distribusi.
a.       Tahap identifikasi merupakan tahap penciptaan identitas kampanye yang dengan mudah dapat dikenali khalayak. Identitas dengan penggunaan simbol, warna, lagu atau jingle, seragam dan slogan.
b.      Legitimasi dalam kampanye politik diperoleh ketika seseorang telah masuk dalam daftar kandidat anggota legislatif. Legitimasi mereka bisa efektif digunakan dan dipertahankan sejauh mereka dianggap capabel dan tidak menyalahgunakan jabatan.
c. Partisipasi yang bersifat nyata atau simbolik. Partisipasi nyata ditunjukkan oleh keterlibatan orang-orang dalam menyebarkan pamflet, brosur/poster, menghadiri demonstrasi yang diselenggarakan sebuah lembaga swadaya masyarakat atau memberikan sumbangan untuk perjuangan partai.
d.    Penetrasi, pada tahap ini seorang kandidat, sebuah produk atau sebuah gagasan telah hadir dan mendapat tempat di hati masyarakat. Sebuah produk telah menguasai sekian persen dari pangsa pasar yang ada.
e.       Distribusi, yaitu tahap pembuktian, pada tahap ini tujuan kampanye pada umumnya telah tercapai.

H.      Contoh Kampanye Keselamatan Jalan

Contoh kampanye yang saya ambil adalah kampanye keselamatan  dalam rangka memperingati Hari Perhubungan Nasional tahun 2016. Kampanye keselamatan jalan yang dilaksanakan Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Brebes yang melibatkan taruna PKTJ Tegal dan STTD Bekasi dilakukan di berbagai titik lokasi, yaitu terminal Tanjung, Pelabuhan Kluwut, Simpang Yos Sudarso dan Simpang Gedung Nasional Brebes, serta pasar Brebes.


Kampanye yang dilakukan adalah dengan membagi permen dan brosur mengenai aturan dalam berlalu-lintas hingga berisi tentang peralatan keselamatan yang digunakan apabila berkendara. Tidak hanya membagikan permen dan brosur, para taruna juga mensosialisasi-kan bahwa melalui peringatan Hari Perhubungan Nasional tahun 2016 diharapkan dapat memberikan dampak positif berupa meningkatnya prestasi kerja nyata untuk mewujudkan transportasi yang aman, sehat dan nyaman.


Selain di jalan, kampanye juga dilakukan di tempat-tempat umum lainnya seperti terminal bus, pelabuhan, dan pasar. Dengan metode yang sama yaitu membagi brosur tentang keselamatan di jalan sembari berinteraksi kepada masyarakat tentang arti sebuah keselamatan pada saat berkendara.

Kelebihan dari sosialisasi yang dilakukan :
1.   Meningkatkan kesadaran bagi masyarakat khususnya pengguna jalan baik pengendara maupun pejalan kaki untuk lebih waspada dan peduli akan keselamatan jalan;
2.      Menambah wawasan bagi masyarakat tentang etika berkendara yang baik dan benar; dan
3.      Menambah ilmu tentang aturan yang ada di jalan raya.

Kekurangan dari sosialisasi yang dilakukan :
1.      Pembagian brosur di jalan kurang efektif, karena massa terfokus pada kemudi;
2.      Mengganggu kelancaran arus lalu lintas; dan
3.      Membutuhkan waktu yang lama karena berinteraksi secara satu-persatu.

I.         Daftar Pustaka
3.        PPT, Lidia Evelina, MM, “Model-Model Kampanye